TIME

Welcome Guys

Ini Penyebab Anda Sering Lemas & Lelah Saat Bangun Tidur

Written By widnyana made on Tuesday, March 24, 2015 | 8:34 PM



Tidak sedikit orang yang merasa tubuhnya lemas lunglai saat bagun pagi. Ada pula yang sulit sekali bangkit dari tempat tidur meskipun sudah dibangunkan alarm. Begitu bangun, bukannya merasa segar Anda malah kelelahan dan mata terasa berat. Jika ini yang sering dialami, kemungkinan ada yang salah dengan kebiasaan Anda sebelum tidur. Ketahui penyebab dan cari solusinya, dengan menyimak tips yang diberikan Pop Sugar.

1. Kamar Kurang Sinar Matahari
Jangan menggunakan tirai dari bahan yang mem-block sinar matahari ke kamar Anda. Jika ruangan terlalu gelap, ritme sirkadian Anda akan sulit membedakan antara siang dan malam sehingga tubuh lebih sulit terbangun dari tidur di pagi hari. Pastikan kamar tidur Anda mendapat cukup sinar matahari yang 'menyelinap' masuk lewat jendela sehingga memberi sinyal pada otak untuk memberitahu bahwa ini saatnya untuk bangun.

2. Tidak Pernah Olahraga
Olahraga membantu tidur lebih nyenyak dan tubuh terasa lebih segar saat bangun di keesokan paginya. Olahraga juga bisa meredakan stres dan membangkitkan mood positif Anda, dan menghasilkan tidur yang lelap dan tenang. Jenis olahraga yang cocok untuk meningkatkan kualitas tidur diantaranya yoga, stretching atau olahraga yang meningkatkan detak jantung.

3. Ber-social Media Sampai Larut Malam
Banyak orang sulit untuk meninggalkan dunia social media seperti Twitter, Path, Instagram atau Facebook. Mengecek status teman, update status dan melihat postingan gambar seringkali membuat lupa diri dan akhirnya Anda baru bisa tidur saat dini hari. Kebiasaan ini tentu saja tidak baik dan menurunkan kualitas tidur. Membuat Anda terasa lemas saat bangun di pagi harinya. Sebelum tidur, sebaiknya jauhkan ponsel, TV, laptop aatau gadget lainnya agar waktu tidur Anda tidak terganggu. Sebaiknya bacalah buku, mandi air hangat dan lakukan peregangan sebelum tidur agar bisa terlelap.

4. Makan Sosis & Bawang Sebelum Tidur
Daging olahan dan bawang bombay akan menghasilkan gas yang membuat perut tidak nyaman, sehingga Anda sering bersendawa atau buang gas semalaman. Kondisi ini tentu saja menyulitkan Anda untuk tidur nyenyak sehingga di pagi harinya tubuh merasa lelah. Selain daging dan bawang, hindari juga makanan pedas, buah yang rasanya asam, saus tomat dan makanan lain yang mengganggu sistem pencernaan.

5. Terlalu Banyak Konsumsi Kafein
Kafein tidak hanya memicu mata untuk tetap terjaga, tapi juga menyebabkan heartburn atau jantung yang seolah panas terbakar. Biasakan tidak minum minuman berkafein di sore hari agar tidur Anda tak terganggu di malam harinya.

6. Banyak Pikiran
Sebelum tidur, buang semua pikiran tentang masalah pekerjaan, pertengkaran dengan kekasih atau rencana liburan Anda sebulan ke depan. Jika banyak memikirkan segala hal, Anda tidak akan bisa tidur. Begitu tertidur, waktu sudah menjelang pagi dan Anda harus segera bangun lagi karena bekerja. Hal ini tentu saja akan membuat Anda lemas dan tak bersemangat.

Sumur: wolipop.com
8:34 PM | 0 comments | Read More

Jenis Cedera yang Banyak Terjadi di Cabang Olahraga Bulutangkis / Badminton

Written By widnyana made on Sunday, February 8, 2015 | 7:00 PM

Bulutangkis adalah salah satu atau bahkan satu-satunya cabang olahraga yang memiliki prestasi tingkat internasional. Membanggakan? Sudah pasti. 


Bulutangkis adalah olahraga non kontak, namun banyak juga cedera yang mengintainya. Apa saja? Mari simak. 

1. Lepuh
Cedera yang disebabkan oleh karena gosokan terus menerus terhadap suatu permukaan.

Treatment: 
- Istirahat dari latihan untuk mencegah iritasi.
- Daerah yang melepuh dibesihkan dan ditutup dengan perban perekat.

2. Luksasio / subluksasio dari artikulasio humeri
Pada sendi bahu sering terjadi luksasio / subluksasio karena sifatnya globoidea (kepala sendi yang masuk ke dalam mangkok sendi kurang dari separuhya). Cedera pada sendi bahu ini sering terjadi karena pemakaian sendi bahu yang berlebihan atau body contact sport, kita harus memperhatikan bahwa sendi bahu sangat lemah, karena sifatnya globoidea dimana hanya diperkuat oleh ligamentum dan otot-otot bahu saja.

Tanda-tanda luksasio / dislokasi :
·      lengkung bahu hilang
·      tidak dapat digerak-gerakkan
·      lengan atas sedikit abduksi
·      lengan bawah sedikit supinasi

Pertolongan pertama :
Hanya boleh dilakukan oleh seorang petugas media kecuali dalam keadaan terpaksa dimana di tempat kejadian tidak ada petugas medis yang terdekat, barulah kita berikan pertolongan pertama yaitu reposisi.

Reposisi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
A. Metode Stimson
Metode ini sangat baik. Caranya penderita dibaringkan tertelungkup sambil bagian lengannya yang mengalami luksasio, keluar dari tepi tempat tidur, menggantung ke bawah. Kemudian diberikan beban yang diikatkan pada lengan bawah dan pergelangan tangan, biasanya dengan dumbbell dengan berat tergantung dari kekuatan otot si penderita. Si penderita disuruh rileks untuk beberapa jam, kemudian bonggol sendi akan masuk dengan sendirinya.

B. Penderita dibaringkan terlentang di lantai. 
Si penolong duduk pada sisi sendi yang lepas. Kaki si penolong menjulur lurus ke dada si penderita, lengan yang lepas sendinya ditarik dengan kedua tangan penolong dengan tenaga yang keras dan kuat, sehingga berbunyi “klik”, ini berarti bonggol sendi masuk kembali.

3. Strain dari otot-otot atap bahu (rotator cuff)
Istilah rotator cuff dipergunakan untuk jaringan ikat fibrosa yang mengelilingi bagian atas tulang humerus. Ini dibentuk dengan bersatunya tendon-tendon atap bahu. Keempat tendon tersebut adalah :
• musculus supraspinatus
• musculus infraspinatus
• musculus teres minor
• musculus subscapularis

Yang paling sering kena adalah tendon supraspinatus. Biasanya terjadi karena tarikan yang tiba-tiba, misalnya, jatuh dengan tangan lurus atau abduksi yang tiba-tiba melawan beban berat yang dipegang dengan tangan.

Tanda-tanda :
- Penderita mengeluh nyeri di ujung bahu. Kalau penderita menaikkan lengan ke samping setelah 45 derajat pertama, penderita mulai merasa sakit, lebih-lebih setelah lengan lebih tingigi. Tetapi rasa sakit berkurang lagi setelah lewat 120 derajat.

Treatment
Lengan digendong dengan mittela selama 2-3 hari, lalu diberikan metode RICE




4. Tenis Elbow
Suatu keadaan yang sering terjadi dengan gejala nyeri dan sakit pada posisi luar siku, tepatnya pada epikondilus lateralis humeri. Biasanya terjadi karena pukulan top spin back hand yang terus-menerus, jadi bersifat over use.
Etiologi dari tennis elbow ini belumlah jelas. Banyak para ahli menganggap bahwa gerakan yang terus-menerus serta intensif dalam bentk pronasi dan supinasi dengan tangan yang memegang tangkai raket, menimbulkan over strain pada otot-otot extensor lengan bawah yang berorigo pada epikondilus lateralis humeri. Tarikan pada otot-otot tersebut akan menimbulkan mikro trauma yang makin lama makin bertumpuk menjadi makro trauma, sehingga akhirnya menimbulkan tennis elbow.
Ada juga yang menganggap disebabkan oleh peradangan (inflamasi) periosteum yang menutupi epikondilus lateralis humeri. Inflamasi tersebut karena tarikan yang terus-menerus dari otot-otot extensor lengan bawah yang berorigo pada epikondilus lateralis humeri.
Tennis elbow tidak semata-mata hanya timbul pada pemain tennis saja, tapi dapat timbul pada cabang bulu tangkis bahkan pada ibu rumah tangga atau penjual minuman botol yang benyak membuka tutup botol.

Penyakit ini terjadi secara perlahan-lahan dan menjadi progressif. Pengobatannya dapat dilakukan adalah fisioterapi.


Pencegahan :
- Melakukan latihan-latihan pada otot-otot tersebut dengan cara meletakkan tangan dalam posisi datar di atas meja. Telapak tangan menghadap ke bawah memegang dumbbell yang beratnya 2 – 2,5 kg. sambil mengangkat dumbbell ke atas dan ke bawah hanya menggunakan dorsofleksi.

- Pengobatan tennis elbow kadang-kadang memerlukan waktu lama untuk penyembuhannya. Selama pengobatan si penderita boleh bermain bulutangkis tapi tidak terlalu lelah , sebaiknya memakai balutan khusus untuk lengan , semacam decker. 

5. Medial epikondilitis (golfer’s elbow)
Sejenis dengan tennis elbow, disebut juga medial epikondilitis atau fore hand tennis elbow. Yang terkena di sini adalah epikondilus medialis humeri. Mengenai patofisiologinya sama dengan tennis elbow, hanya saja yang mengalami mikro trauma adalah origo dari otot-otot yang melakukan fleksi lengan bawah, jadi yang berorigo pada epikondilus medialais humeri. Golfer’s elbow biasanya diderita oleh pemain golf, tetapi pemain bulutangkis juga dapat mengalaminya, yaitu nyeri di siku bagian dalam.


    


 Gambar 5 a.


Terapi untuk back hand tennis elbow. Lengan diletakkan dalam posisi datar di atas meja, tangan dibiarkan terulur melewati tepi meja, telapak tangan menghadap ke bawah. Dengan memegang beban seberat 2 – 2,5 kg, bengkokkan pergelangan tangan sebanyak sepuluh kali.

6.    Ankle
Sprain ankle juga dikenal sebagai cidera ankle atau cidera ligament ankle, pada umumnya sprain ankle ini terjdi karena robeknya sebagian dari ligament (torn partial ligament) atau keseluruhan dari ligament (torn ligament) dan hampir 85% kasus sprain ankle ini mengenai ligament talofibular anterior.

Penyebab :
Gerakan yang sering memicu sprain ankle adalah gerakan inversi dan plantar fleksi yang tiba-tiba saat kaki tidak menumpu sempurna pada lantai.

Kategori :
Sprain ankle terbagi menjadi beberapa derajat sprain sesuai tingkat kerusakan dan pengaruh ligamentnya. Derajat I sprain ankle umumnya terjadi penguluran pada ligamentum talofibular anterior sehingga pasien mengalami nyeri yang ringan dan sedikit bengkak. Sedangkan derajat II dan III sprain ankle, kerobekan parsial dan komplet telah terjadi pada ligamentum lateral compleks ankle (ligamentum talofibular anterior, ligamentum calcaneofibular, ligamentum calcaneocuboideum, ligamentum talocalcaneus dan ligamentum talofibular posterior). Pada derajat II dan III, pasien mengalami nyeri hebat (aktualitas tinggi), bengkak dan penurunan fungsi ankle (gangguan berjalan), sehingga umumnya pasien langsung berobat ke fisioterapi.

Penanganan :
Untuk tahap akut selalu menggunakan protokol protection, rest, ice, compresion and elevation atau lebih populer dengan (PRICE), yang kemudian diikuti dengan program exercise untuk memperkuat stabilitas sendi ankle. Penggunaan ankle brace atau ankle support sangat membantu untuk perawatan dan pencegahan sprain ankle. Terkadang karena jalan yang abnormal menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak yang lebih parah. Untuk itu pada kasus yang akut berikanlah ankle brace dan kruk (crutches).

Pemberian ice pada kasus sprain ankle akut selama 10-15 menit membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan. Tetapi perlu diingat juga pemberian ice yang terlalu lama juga dapat menimbulkan cidera karena efek dingin yang terjadi. Penggunaan bandage yang tepat diperlukan untuk mensupport ligament agar lebih stabil dan menekan ligament yang cidera sehingga menguramgi nyeri dan menstabilkannya. Dalam pemberian bandage ini yang perlu diingat adalah jangan terlalu kencang dan pergunakan metode yang tepat karena pengaplikasian bandage yang terlalu kencang dapat menghambat proses vaskularisasi darah.

Pada kronik sprain ankle, akan terjadi kerusakan struktur jaringan. Seperti pada ligamentum akan terjadi kerobekan, yang dapat merangsang serabut saraf afferen bermyelin tipis (serabut saraf A delta dan tipe C). Impuls tersebut dibawa ke ganglia akar saraf dorsalis dan merangsang produksi “P” substance yang memicu terjadinya reaksi radang. 
Kemudian impuls tersebut dibawa ke cornu dorsalis medula spinalis dan dikirim ke level SSP yang lebih tinggi melalui traktus spinothalamicus. Pada level SSP yang lebih tinggi (cortex sensorik, hipothalamus & limbik system) impuls tersebut mengalami proses interaksi yang kemungkinan menghasilkan suatu perasaan subyektif yang dikenal dengan persepsi nyeri. Otot juga ikut terulur lalu akan menjadi spasme, timbul abnormal crosslink yang dapat mengganggu system metabolisme dan menimbulkan nyeri. Pada pembuluh darah akan terjadi haemorhage dan dilatasi yang dapat meningkatkan perlepasan zat-zat iritan yang akan meningkatkan sensitivitas nocisensorik sehingga akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada ujung-ujung saraf pada jaringan yang mengalami kerusakan akan mengeluarkan zat-zat iritan berupa prostaglandin, bradikinin dan histamine yang akan merangsang saraf afferent A delta dan C yang dapat meningkatkan sensitivitas nocisensorik sehingga timbul nyeri.

Peran Fisioterapi :
Pemilihan Ultrasound sebagai modalitas utama pada kondisi kronik sprain ankle disarankan, karena efek mekanik dan terapeutik yang dihasilkan oleh Ultrasound berguna untuk proses recovery. Ultrasound merupakan modalitas fisioterapi yang menghasilkan gelombang suara dengan frekeunsi antara 1 – 3 MHz. Ultrasound dapat menghasilkan efek mekanik, termal dan microtissue damage. Pada kondisi klinis pengaplikasian ultrasound dengan intensity 3Mhz dan intensity 1,5 w/cm kuadrat memberikan efek yang bermanfaat untuk perbaikan jaringan lunak.

Bagaimanapun juga exercise atau latihan adalah yang terbaik untuk kasus cidera ligament kronik. Latihan aktive dan active range of motion yang berupa dorsi-fleksi, plantar fleksi, inversi ataupun eversi stabilisasi akan menjaga fleksibilitas dan lingkup gerak sendi. latihan stabilitas juga perlu untuk penguatan otot-otot ankle sehingga dapat membantu serta memperbaiki problem yang muncul akibat instabilitas atau nyeri yang diakibatkan oleh kelemahan otot ankle. Akibat dari latihan stabilisasi, maka otot-otot stabilisator aktif pada ankle dapat memperbaiki kekuatan, ukuran serta mencegah peradangan. Pengaruh dari latihan stabilisasi juga akan meningkatkan peredaran darah pada persendian dan nutrisi tulang disamping karena memperbaiki kekuatan dan fungsi resiko terluka atau cidera kronik pada persendian. Latihan stabilisasi juga memperbaiki system peredaran darah oleh adanya pumping sehingga mengatasi terjadinya pembengkakan yang dapat mengganggu gerak dan fungsi sendi dan mampu mengurangi nyeri pada level sensorik.

7. Cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL)

Anterior Cruciate Ligament (ACL)  adalah urat di dalam sendi yang menjaga kestabilan sendi lutut. Cedera ACL sering terjadi pada olah raga high-impact, seperti sepak bola, futsal, tenis, badminton, bola basket dan olah raga bela diri. Pada umumnya ACL dapat cedera pada keadaan ketika sedang lari  mendadak berhenti kemudian berputar arah sehingga menyebabkan lutut terpuntir atau lompat dan mendarat dengan posisi lutut terpuntir.
Pada saat cedera biasanya pasien akan mendengar suara seperti ada yang patah dalam sendi. Saat itu tiba-tiba pasien merasa 'kehilangan tenaga' dan langsung jatuh. Kadang-kadang setelah beberapa saat, pasien dapat berjalan kembali tetapi pincang, sendi lutut sulit digerakkan karena nyeri, dan diikuti dengan bengkak.
Namun sering, setelah cedera 1-2 hari, pasien dapat jalan seperti biasa. Keadaan ini bukan berarti ACL sudah sembuh.
Pada perkembangannya pasien akan merasakan bahwa lututnya tidak stabil, gampang 'goyang' dan sering timbul nyeri. Dengan cedera ACL pasien akan sulit sekali untuk dapat melakukan aktifitashigh-impact sports, seperti main bola, futsal, basket atau badminton.
Sebagian besar Cedera ACL Ligamen memerlukan tindakkan operasi Arthroscopy agar pasien dapat pulih seperti sedia kala.
Standar operasi Arthroscopy ACL Reconstruction yang kami pakai adalah Arthroscopic ACL Double Bundle Reconstruction. Tehnik ini telah kami lakukan lebih dari 200 kali sejak tahun 2007. Tehnik operasi ini sangat populer di USA, Eropa dan Jepang karena dengan tehnik ini, hasilnya sangat memuaskan pasien.
Saat ini tehnik operasi ini dipakai sebagai standard untuk operasi cedera ACL atlet-atlet papan atas kelas dunia, misalnya Tiger Wood.



Jadi intinya, 
Saat bermain badminton, apabila mengalami cedera segera ke fisioterapi atau dokter. Lakukan proses penyembuhan sampai sembuh total, baru kemudian kembali bermain. 


Sumber: google dengan pengubahan. 

7:00 PM | 1 comments | Read More

Kinesiotaping

Written By widnyana made on Saturday, January 10, 2015 | 5:52 PM

Tujuan Taping adalah untuk mencegah dan melindungi tendon dan otot dari cedera. Ini dipengaruhi karena kinesio sifatnya elastis tidak mengandung gel sehingga melepaskan nyeri dan memperkuat fungsinya. Ketika seseorang terdapat gangguan nyeri, padang kinesio pada kulit, otot dan fasia sendi dapat mengembalikan fungsi normal. Taping dirancang untuk ventilasi yang baik  dan menyeimbangkan tubuh dengan otot karena ventilasi yang sangat baik dan merekat kuat pada kulit. taping juga elastis dan elastisitas yang mirip dengan kontraksi otot manusia yang memungkinkan kita untuk mendapatkan reaksi tubuh mendasar. Taping menjaga otot dari yang berlebihan, dan dengan mengangkat kulit (sekitar 10 mikron) ruang antara kulit dan otot diperluas. Pada saat ini kulit membentuk spiral (gelombang) bentuk, aliran darah dan getah bening yang dipromosikan antara lapisan fasia dan kemampuan untuk menyebarkan dipupuk, yang menenangkan rasa sakit. Juga, fungsi gerak otot mengalami perbaikan, memungkinkan kita untuk melakukan upaya fisik sehat. Dengan demikian, Taping Terapi tidak memiliki efek samping, mudah untuk melakukan, dan secara keseluruhan bekerja cepat.

Screen-Shot-2012-12-29-at-11.18.54-PM-1024x267

Kulit membentuk bentuk spiral dan aliran darah dan getah bening yang dipromosikan antara lapisan fasia.

 

Manfaat Taping

Taping terapi sangat sederhana sehingga mudah diterapkan di rumah. Ada empat cara untuk bagaimana rekaman itu dapat secara positif mempengaruhi sistem muskuloskeletal.

 

Screen-Shot-2012-12-29-at-11.16.51-PM

Meningkatkan fungsi otot dan mencegah kerusakan sekunder dan disfungsi. Nyeri primer dan disfungsi menyebabkan efek kompensasi menempatkan ketegangan pada struktur sekunder. Dengan menggunakan kinematics tex untuk meningkatkan fungsi, kerusakan pada struktur sekunder dapat dikurangi jika tidak dicegah.

 

Screen-Shot-2012-12-29-at-11.17.01-PM

Meningkatkan sirkulasi. Kinematics itu dirancang lembut untuk mengangkat permukaan kulit yang fungsinya meningkatkan aliran cairan ke dan dari daerah yang terkena. Oleh karena itu sangat efektif dalam mengurangi memar dan pembengkakan.

 

Screen-Shot-2012-12-29-at-11.17.09-PM

Untuk mengurangi rasa sakit. Penerapan kinematics mengaktifkan reseptor mekanik menghambat reseptor rasa sakit.

 

Screen-Shot-2012-12-29-at-11.16.51-PM

Memperbaiki keselarasan sendi dan disfungsi. Menerapkan tape untuk melindungi dan meningkatkan sejajar dan disfungsional sendi juga dapat meningkatkan otot dan fungsi, sehingga mengurangi rasa sakit.

 

Taping Tips

Tidak seperti patch nyeri lega atau kaset tegap konvensional, titik awal dan titik akhir dari otot yang menyakitkan harus terletak terlebih dahulu sebelum menerapkan kinesiotape untuk efek maksimal nya.

Untuk efek penghambatan otot hipertonik atau berlebihan, dari penyisipan ke asal.

Untuk efek stabilitas otot yang lemah yang dapat menyebabkan struktur lainnya untuk menerima kelebihan (mis. Tendonitis, fasciitis, epicondylitis, dll), dari asal ke penyisipan.

Silahkan membersihkan daerah dengan benar dan membuat otot pasti akan dimanfaatkan ditarik ke kisaran ujungnya sejauh mungkin. Memotong kinesio sesuai dengan ukuran otot. Jangan melakukan peregangan atau memperpanjang ukuran nya.

Terapkan kinematics hanya ketika otot sudah benar-benar berbaring sejauh bisa untuk aplikasi yang tepat.

Kinesiotape dirancang untuk digunakan selama lebih dari satu hari. Ketika tape diterapkan dengan benar, seharusnya tidak mudah dihilangkan bahkan jika itu basah dari hujan atau berenang. Jika basah, silahkan keringkan atau menggunakan pengering rambut Anda.

Saat melepaskan tape, memutar kinesio yang di tempel dengan lembut ke arah yang berlawanan

Silahkan lihat manual taping untuk metode taping yang berbeda untuk gejala spesifik dan tanda-tanda.

 

Peringatan

Jika daerah yang lekatkan menjadi tidak nyaman, silakan hapus dan ulang lagi untuk di tempel pada bagian itu. Kadang-kadang, lem perekat dalam kinematics itu bisa mengiritasi kulit setelah satu atau dua hari aplikasi, jika daerah ditempel menjadi merah atau iritasi, silakan lepas kinesio itu segera.

5:52 PM | 2 comments | Read More

Plica Syndrome

Written By widnyana made on Friday, January 9, 2015 | 12:34 AM

Introduction

Plica syndrome is an interesting problem that occurs when an otherwise normal structure in the knee becomes a source of knee pain due to injury or overuse. The diagnosis can sometimes be difficult, but if this is the source of your knee pain, it can be easily treated.

This guide will help you better understand

  • what a plica is
  • how plica syndrome can cause problems
  • what doctors can do to treat the condition

Anatomy

What is a plica, and what does it do?

Plica is a term used to describe a fold in the lining of the knee joint. Imagine the inner lining of the knee joint as nothing more than a sleeve of tissue. This sleeve of tissue is made up of synovial tissue, a thin, slippery material that lines all joints. Just as a tailor leaves extra folds of material at the back of sleeves on a shirt to allow for unrestricted motion of the arms, the synovial sleeve of tissue has folds of material that allow movement of the bones of the joint without restriction.

Four plica synovial folds are found in the knee, but only one seems to cause trouble. This structure is called the medial plica. The medial plica attaches to the lower end of the patella (kneecap) and runs sideways to attach to the lower end of the thighbone at the side of the knee joint closest to the other knee. Most of us (50 to 70 percent) have a medial plica, and it doesn't cause any problems.

Related Document: A Patient's Guide to Knee Anatomy

Causes

How does a plica cause problems in the knee?

A plica causes problems when it is irritated. This can occur over a long period of time, such as when the plica is irritated by certain exercises, repetitive motions, or kneeling. Activities that repeatedly bend and straighten the knee, such as running, biking, or use of a stair-climbing machine, can irritate the medial plica and cause plica syndrome.

Injury to the plica can also happen suddenly, such as when the knee is struck in the area around the medial plica. This can occur from a fall or even from hitting the knee on the dashboard during an automobile accident. This injury to the knee can cause the plica, and the synovial tissue around the plica, to swell and become painful. The initial injury may lead to scarring and thickening of the plica tissue later. The thickened, scarred plica fold may be more likely to cause problems later.

Symptoms

What does plica syndrome feel like?

The primary symptom caused by plica syndrome is pain. There may also be a snapping sensation along the inside of the knee as the knee is bent. This is due to the rubbing of the thickened plica over the round edge of the thighbone where it enters the joint. This usually causes the plica to be tender to the touch. In thin people, the tissue that forms the plica may be actually be felt as a tender band underneath the skin. In rare cases where the plica has become severely irritated, the knee may become swollen.

Diagnosis

How will my doctor know it's plica syndrome?

Diagnosis begins with a history and physical exam. The examination is used to try and determine where the pain is located and whether or not the band of tissue can be felt. X-rays will not show the plica. X-rays are mainly useful to determine if other conditions are present when there is not a clear-cut diagnosis.

If there is uncertainty in the diagnosis following the history and physical examination, or if other injuries in addition to the plica syndrome are suspected, magnetic resonance imaging (MRI) may be suggested. The MRI machine uses magnetic waves to show the soft tissues of the body. Usually this test is done to look for injuries, such as tears in the meniscus or ligaments of the knee. This test does not require any needles or special dye and is painless. A computed tomography (CT) scan may also be used to see whether the plica has become thickened. Most cases of plica syndrome will not require special tests such as the MRI or CT scan.

If the history and physical examination strongly suggest that a plica syndrome is present, then arthroscopy may be suggested to confirm the diagnosis and treat the problem at the same time. Arthroscopy is an operation that involves inserting a small fiber-optic TV camera into the knee joint, allowing the surgeon to look at the structures inside the knee joint directly. The arthroscope allows your surgeon to see the condition of the whole knee and determine whether the medial plica is inflamed.

Treatment

What can be done for plica syndrome?

The majority of people with plica syndrome will get better without surgery. The primary goal when treating the plica is to reduce the inflammation. This may require limiting activities like running, biking, or using a stair-climbing machine.

Nonsurgical Treatment

Your doctor may suggest anti-inflammatory medications such as ibuprofen or aspirin to reduce the inflammation. Ice packs or ice massage can help reduce the inflammation and swelling in the area of the plica and may be suggested by your doctor or physical therapist. Ice massage is easy and effective. Simply freeze water in a paper cup. When needed, tear off the top inch, exposing the ice. Rub three to five minutes around the sore area until it feels numb.

cortisone injection into the plica, or simply into the knee joint, may quickly help to reduce the inflammation around the plica. Cortisone is a powerful anti-inflammatory medication, but it should be used sparingly inside joints. There is always a risk of infection associated with injections into any joint.

Surgery

If all nonsurgical attempts to reduce your symptoms fail, surgery may be suggested. Usually, an arthroscope (mentioned earlier) is used to remove the plica. The small TV camera is inserted into the knee joint through one-quarter inch incisions. Once the plica is located with the arthroscope, small instruments are inserted through another one-quarter inch incision to cut away the plica tissue and remove the structure. The area where the plica is removed heals back with scar tissue. There are no known problems associated with not having a plica, so you won't miss it.

Rehabilitation

What should I expect following treatment?

Nonsurgical Rehabilitation

If your treatment is nonsurgical, you should be able to return to normal activity within four to six weeks. You may work with a physical therapist during this time. Treatments involve stretching and strengthening exercises for the leg.

Treatments such as ultrasound, friction massage, and ice may be used to calm inflammation in the plica. Therapy sessions sometimes includeiontophoresis, which uses a mild electrical current to push anti-inflammatory medicine to the sore area. This treatment is especially helpful for patients who can't tolerate injections.

After Surgery

Your surgeon may have you work with a physical therapist after surgery. Your first few rehabilitation sessions are designed to ease pain and swelling and help you begin gentle knee motion and thigh tightening exercises. Patients rarely need to use crutches after this kind of surgery.

As the program evolves, more challenging exercises are chosen. Patients do closed chain exercises by keeping their foot on a surface while working the knee joint. These exercises mimic familiar activities like squatting down, lunging forward, and going up or down steps. These exercises help keep pressure off the kneecap while getting a challenging workout for the leg muscles. Your therapist will work with you to make sure you are not having extra pain in your knee during the exercises. You may be shown stretches for the soft tissues along the edge of the kneecap as well as flexibility exercises for the hamstrings, quadriceps, and calf muscles.

The therapist's goal is to help you keep your pain under control, increase the strength of your quadriceps muscles, and maximize the range of motion in your knee. When you are well under way, your regular visits to the therapist's office will end. The therapist will continue to be a resource, but you will be in charge of doing your exercises as part of an ongoing home program.


*Disclaimer:*The information contained herein is compiled from a variety of sources. It may not be complete or timely. It does not cover all diseases, physical conditions, ailments or treatments. The information should NOT be used in place of visit with your healthcare provider, nor should you disregard the advice of your health care provider because of any information you read in this topic.

Sources: methodistorthopedic.com


12:34 AM | 1 comments | Read More

Student's Elbow (Bursitis Olecranon)

Written By widnyana made on Wednesday, January 7, 2015 | 8:13 PM


Saat sharing mas bayu, fisioterapis Solo. Ada satu kasus unik dengan nama menggelitik. "Student's Elbow", apa itu? Simak artikel dari sportinjuryclinic.net berikut.


Students elbow bursitisElbow bursitis also known as Students elbow or Olecranon bursitis is the inflammation and swelling of the bursa which protects the bone at the back of the elbow.

Elbow bursitis symptoms

Traumatic or repetitive impacts to this area can result in pain and a large swelling at the back of the joint as the bursa swells up. Symptoms include pain in the elbow both at rest and during exercise. There will be a painful swelling on the back of the elbow which most likely limits mobility.

Elbow bursitis explained

A bursa is a sack of fluid which helps to prevent friction between bones and the soft tissue over the top. Inflammation or bleeding into a bursa can cause it to become inflamed and painful. Elbow bursitis may occur from one sudden impact such as being hit by a ball, or from repetitive friction.

The condition is often called student's elbow as repeatedly leaning on the elbows whilst studying can result in this injury.

Elbow bursitis can be prevented by wearing elbow pads or elbow guards for sports where impact to the elbow is possible such as Cricket, Baseball or Football. A padded elbow support should be worn for activities where pressure will be put on the elbow for long periods. Avoid leaning on elbows at a desk or table.

Elbow bursitis treatment

Rest and apply ice or cold therapy. The is help reduce pain and inflammation. Cold should be applied for 10 minutes every hour until the pain and swelling has gone down.

A doctor may recommend anti inflammatory medication such as ibuprofen. Aspirating the bursa is an option in some cases. A needle is inserted into the bursa and the fluid sucked out. In severe cases a doctor may immobilize the arm or give a steroid injection. If conservative treatment fails then a surgeon may operate for elbow bursitis.

8:13 PM | 2 comments | Read More