Hindu akan Punah karena Adatnya

Written By widnyana made on Tuesday, May 15, 2012 | 6:25 AM

Om Swastyastu.
Ini tulisan pertama saya di blog yang saya buat asli dari pemikiran. bukan dari co-pas sumber lain. Beberapa hari yang lalu, saya sempat pulang kampung dan tinggal di rumah selama hari Sabtu dan Minggu. Kebetulan sekali pada hari Sabtu (12 Mei 2012) di Banjar saya ada kegiatan pelebon. Yang meninggal adalah pemangku dari pura di desa adat kami. Sehingga sebuah kewajiban bagi warga masyarakat untuk membantu dalam hal tenaga dan materi dalam rangka pelebonn tersebut. 
Sebuah kesempatan yang baik bagi saya untuk terjun kembali ke masyarakat dan berbaur di dalamnya, karena sya yang tinggal di Denpasar untuk kuliah hampir jarang mendapat kesempatan untuk ngayah di masayarakat. Ini bukanlah pertama kali saya terjun di masayarakat, mungkin bisa dibilang yang kesekian kalinya selaku pengganti dari orang tua (bapak), sehingga kegiatan yang dilakukan sudah saya pahami. Dimulai dari kegiatan yang sederhan seperti menguliti kelapa, memarut kelapa hingga kegiatan yang memerlukan keterampilan khusus lainnya, seperti membuat klakat sudamala dan membuat sengkui (tempat ayam). Di sela-sela kegiatan itu, kita tidak bekerja seperti seorang karyawan pabrik, yang saling diam dan fokus pada kerja, melainkan kita berbaur satu sama lain dan saling berinteraksi. Disinilah perbedaan mendasar dari cara kerja orang Bali, tangan bekerja mulutpun berbicara, pekerjaan lama selesai memang, tapi pikiran sedikit rileks karena diselingi obrolan ringan antara pengayah. 
 Disela-sela obrolan inilah saya mendengar pembicaraan yang cukup seru dan menarik antara teman SD saya dulu dengan salah seorang warga pengayah lainnya. Teman SD saya itu seumuran dengan saya, seperti ini kira-kira inti pembicaraan mereka 
"sangat susah membagi waktu, saya harus kerja, harus ngayah, pengen sebenarnya kuliah, tapi banyak hal yang menghalangi".
Perlu diketahui bahwa teman SD saya ini adalah anak yatim (bapaknya meninggal) sehingga semua tanggung jawab di desa adat (ngayah, tedun, gotong royong dan lain-lain) dilaksanakan oleh dia. Betapa memprihatinkannya melihat anak muda umur 20-an yang seharusnya ada di bangku kuliah malahan berkutat dengan urusan adat yang sangat pragmatis.
Sempat saya mendiskusikan masalah ini dengan orang tua saya sepulang dari ngayah, dan bapak saya berkata "adat kita terlalu keja," 
Saya berpikir sejenak, dan setuju dengan pendapat bapak saya. Bukankah sebaiknya dia diberikan perkecualiaan, bukankah dia sebaiknya diberikan keringanan. Misalnya diberikan keringanan dengan cara kewajibannya dibanjar bisa digantikan oleh ibunya (perlu diketahui, adat di daerah saya sangat memperhatikan gender saat ngayah. Jadi saat yang ngayah adalah pihak laki-laki, maka yang datang adalah laki-laki, dan bila ada perempuan yang mewakili, maka akan ada cibiran dari pengayah laki lainnya). Ini seperti sebuah tradisi yang membelenggu modernisasi. Adat memang salah satu alat untuk mengajegkan Bali. akan tetapi, apakah generasi muda yang kolot sudah cukup untuk menjaga sebuah "AJEG BALI" ?
(widnyana)

2 comments:

Bukan Spamer said...

Assalamualaikum ... Tolong komen ane di approve gan ! hehe, numpang cari backlink. Gimana keluarga semua di rumah ? Sehat ?
Ijin titip Link ya gan, Mohon maaf kalo ane nyampah ... :)

Mengobati Sipilis tanpa ke dokter
Obat Sipilis di apotik online
Obat Kencing Sakit tanpa ke dokter
Jual Obat Raja Singa herbal
Obat Raja Singa Gang Jie & Gho Siah
Produk Obat Sipilis terbaik
Obat Kencing Sakit tanpa efek samping
Obat herbal Kencing Sakit Sipilis
Obat Tradisional Raja Singa
Obat Raja Singa Tradisional Ampuh

Andi said...

Obat Penyakit Spilis Raja Singa ? Segera Hubungi Kami Dan Pesan Obatnya Sekarang Juga di Fast Respond : 087705015423 PIN : 207C6F18.

Post a Comment