TIME

Welcome Guys

Showing posts with label Sosial Budaya. Show all posts
Showing posts with label Sosial Budaya. Show all posts

Sejarah Fisioterapi Dunia (a History of Physiotherapy)

Written By widnyana made on Monday, December 1, 2014 | 2:48 AM

Semua hal ada sejarahnya. Demikian juga dengan fisioterapi (physiotherapy). Sambil santai sore iseng2 saya browsing sejarah fisioterapi di dunia. Beberapa menit mencari, tak ada sumber berbahasa indonesia, namun tenang dulu, ada website yang membuat artikel dengan judul menarik, hingga akhirnya saya angkat artiket tersebut ke blog saya. Sangat disayangkan saya belum dapat mengalihbahasakan ke bahasa idonesia. Kebenaran dari sumber ini jg blm bisa saya pastikan seratus persen. Namun tak ada salahnya untuk menambah wawasan. Silahkan disimak..



A History of Physiotherapy (Physical Therapy)








The earliest documented origins of physiotherapy (physical therapy) as a professional group date back to Per Henrik Ling, “Father of Swedish Gymnastics,” who founded the Royal Central Institute of Gymnastics (RCIG) in 1813 for massage, manipulation, and exercise. The Swedish word for physiotherapist (physical therapist) is “sjukgymnast” = “sick-gymnast.” In 1887, physiotherapists (physical therapists) were given official registration by Sweden’s National Board of Health and Welfare.

Other countries soon followed. In 1894 four nurses in Great Britain formed the Chartered Society of Physiotherapy followed by The School of Physiotherapy at the University of Otago in New Zealand in 1913, and in the United States’ in 1914 Reed College in Portland, Oregon, which graduated “reconstruction aides.”

Modern physiotherapy (physical therapy) was established in Britain towards the end of the 19th century. Soon following, American orthopedic surgeons began treating children with disabilities and began employing women trained in physical education, massage, and remedial exercise. These treatments were applied and promoted further during the Polio outbreak of 1916. During the First World War women were recruited to work with and restore physical function to injured soldiers, and the field of physiotherapy (physical therapy) was institutionalized. In 1918 the term “Reconstruction Aide” was used to refer to individuals practicing physiotherapy (physical therapy). The first school of physiotherapy (physical therapy) was established at Walter Reed Army Hospital in Washtington D.C. following the outbreak of World War I.

Research catalyzed the physiotherapy (physical therapy) movement. The first physical therapy research was published in the United States in March 1921 in “The PT Review.” In the same year, Mary McMillan organized the Physical Therapy Association (now called the American Physical Therapy Association (APTA). In 1924, the Georgia Warm Springs Foundation promoted the field by touting physical therapy as a treatment for polio.

Treatment through the 1940s primarily consisted of exercise, massage, and traction. Manipulative procedures to the spine and extremity joints began to be practiced, especially in the British Commonwealth countries, in the early 1950s. Later that decade, physiotherapists (physical therapists) started to move beyond hospital-based practice to outpatient orthopedic clinics, public schools, colleges/universities, geriatric settings (skilled nursing facilities), rehabilitation centers and medical centers.

In 1921 in the physiotherapists (physical therapists) within the United States formed the first professional association called the American Women’s Physical Therapeutic Association. This gave birth to what is known today as the American Physical Therapy Association (APTA), and currently represents approximately 76,000 members throughout the United States.

The American Physical Therapy Association defines physical therapy as:“clinical applications in the restoration, maintenance, and promotion of optimal physical function.”

Specialization for physiotherapy (physical therapy) in the U.S. occurred in 1974, with the Orthopaedic Section of the American Physical Therapy Association being formed for those physiotherapist’s (physical therapist’s) specializing in orthopaedics. In the same year, the International Federation of Orthopaedic Manipulative Physical Therapists was formed, which has ever since played an important role in advancing manual therapy worldwide.

2:48 AM | 1 comments | Read More

Korea, negeri miskin yang kini terus berlari kencang.

Written By widnyana made on Saturday, October 4, 2014 | 2:05 AM


Pasca Perang Korea 1950-1953, Korsel tidak lebih dari tumpukan debu. Perang hanya menyisakan desa-desa yang compang-camping, tanah telantar, serta 48 jutaan warga miskin dan kurang makan. Begitulah sejarawan militer Amerika Serikat, Russel Gugeler, menggambarkan kondisi Negeri Gingseng pada 1966 dalam buku Korea 1988: A Nation at the Crossroads (editor G Cameron Hurst III, 1988).

Hingga 1980, kondisi ekonomi Korsel lebih buruk ketimbang Indonesia yang sama-sama sedang berusaha bangkit setelah melewati masa perang kemerdekaan dan pergolakan politik. Saat itu, produk domestik bruto (PDB) Korsel hanya 64,4 miliar dollar AS, sedangkan PDB Indonesia 86,3 miliar dollar AS. Sumber daya alam Korsel juga hanya seujung kuku sumber daya alam Indonesia.

Lahan pertanian kami sempit dan tidak akan cukup untuk memproduksi makanan untuk seluruh rakyat Korsel. Kami bahkan tidak punya minyak setetes pun, ujar profesor Park Sang-il dari Seoul National University of Technology and Science saat ditemui wartawanKompas, Budi Suwarna dan Hamzirwan,di ruang kerjanya di kampus, awal September.

Hanya dalam dua dasawarsa sejak program pembangunan ekonomi nasional dicanangkan pada 1960-an, Korsel bergerak untuk berubah menjadi negara industri baru. Tahun 1984, PDB Korsel mulai melewati Indonesia dan selanjutnya berlari kencang tanpa pernah bisa terkejar oleh Indonesia hingga saat ini. Pada 2014, PDB Korsel mencapai 1,308 triliun dollar AS dan berada di peringkat ke-14 dunia, sedangkan Indonesia 868,34 miliar dollar AS.

Pendapatan per kapita Korsel mencapai 25.977 dollar AS (2013), Indonesia 3.590 dollar AS. Dalam bahasa awam, pendapatan rata-rata setiap warga Korsel per tahun adalah tujuh kali lipat dari pendapatan per tahun rata-rata orang Indonesia.

Wajah Korsel berubah drastis. Desa-desa yang compang-camping dan warganya kelaparan akibat perang saudara tidak ditemukan lagi. Kami mencoba menyelami kehidupan di sebuah desa di Incheon yang berjarak hanya sepelemparan batu dari stadion Asian Games, Incheon Asiad. Kami bertemu Kim Jum-soon, seorang ibu berusia 54 tahun, yang sedang membuat berkilo-kilogram kimchi, makanan khas negeri itu yang berupa sayuran terfermentasi. Sayur-mayurnya ia tanam sendiri di lahan 1.200 meter persegi.

Ini untuk kami konsumsi sendiri. Saya tak perlu berjualan karena gaji suami saya sebagai karyawan perusahaan listrik sudah cukup, ujar Jum-soon, si ibu petani yang datang ke kebunnya dengan mobil sedan.

Potret Korsel yang sejahtera terlihat amat nyata tanpa perlu penjelasan lanjutan. Jembatan-jembatan kokoh dan panjang melintang di atas sungai-sungai besar, transportasi massal seperti kereta bawah tanah dan bus menghampiri stasiun dan halte setiap 3 menit sekali. Jalan-jalan di tengah kota mirip catwalk, tempat orang-orang berpakaian modis dan mahal berseliweran nyaris setiap detik. Di restoran, setiap orang makan dalam porsi besar.

Orang Korsel makan banyak, tetapi orang di Korut belum tentu bisa makan, ujar Oh Joo-suk, pengusaha asal Busan. Malam itu, kami makan di sebuah restoran di Gangnam salah satu pusat kehidupan urban di Seoul sambil memandangi gedung-gedung jangkung bermandikan cahaya.

Kerja keras

Bagaimana Korsel bisa melompat dari negara miskin menjadi negara sejahtera dalam waktu singkat? Sarjana dan media Barat menyebut apa yang terjadi pada Korsel sebagai keajaiban. Namun, kemajuan yang diraih Negeri Ginseng tidak terjadi dalam satu malam.

Setelah perang saudara reda di awal semester kedua 1953, kata Rezky Kim Seok-gi, Direktur Pusat Kebudayaan Korea (KCC), para pemimpin Korsel menyusun rencana pembangunan lima tahunan dan mempercepat pembangunan infrastruktur. Rencana itu kami jalankan dengan disiplin tinggi dan kerja keras di bawah kepemimpinan kuat, ujarnya.

Karena sumber daya alam Korsel sangat minim, lanjut Rezky, pemerintah mendorong negeri itu menjadi negara industri. Mereka menyalurkan utang luar negeri ke pengusaha lokal dalam bentuk skema pinjaman lunak, subsidi, dan insentif. Pemerintah juga memberikan perlindungan terhadap produk yang mereka hasilkan.

Di saat yang sama, pemerintah menanamkan doktrin yang tidak bisa ditawar-tawar tentang cinta produk lokal sebagai bagian dari sikap patriot. Kalau menggunakan produk asing, kami merasa malu karena dianggap tidak membantu negara. Inilah yang membuat perusahaan Korsel bisa hidup dan terus berkembang karena mereka punya pasar, ujar Rezky.

Felix Moos dalam artikel Korea Globalizes: A Tiger Cub Growing (1988) menuliskan, perlindungan yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan sering kali berupa hak monopoli yang ekstrem. Namun, dengan cara itu, beberapa perusahaan lokal menjelma jadi perusahaan besar dan dikenal di tingkat global, seperti Posco, Hyundai, KIA, Samsung, Daewoo, dan LG.

Felix menambahkan, selain kepemimpinan yang kuat, ada faktor lain yang menentukan keberhasilan Korsel, yakni Amerika Serikat. Di awal pembangunan Korsel, AS menggelontorkan banyak uang dan gagasan. Tanpa AS dan Jepang, Korsel tidak mungkin bisa bangkit dari perang dan konflik dengan Korut, tulis Felix.

Hebatnya, setelah jadi negara industri, Korsel bisa mengubah posisinya dari klien AS dan Jepang menjadi kompetitor utama. Seperti dikutip dari AFP edisi 8 Juni 2014, Samsung kini menguasai 25,2 persen pasar ponsel pintar dunia, mengalahkan produk AS, Apple, yang menguasai 11,9 persen. Adapun LG mendesak ke atas sebagai peringkat kelima dengan penguasaan pasar 4,9 persen.

Gambaran di atas menunjukkan faktor internal tetap yang lebih menentukan kemajuan Korsel, utamanya kualitas sumber daya manusia negeri itu. Profesor Park Sang-il menjelaskan, sejak awal membangun negeri, Korsel sadar bahwa mereka hanyalah negara miskin, dengan penduduk yang juga miskin. Maka, satu-satunya cara agar bisa bertahan adalah dengan meningkatkan kualitas SDM.

Pada periode 1980-an dan 1990-an, lanjut Sang-il, banyak anak-anak muda yang dikirim ke AS dan Jepang untuk belajar, terutama tentang teknologi tinggi. Sang-il adalah salah seorang di antara mereka. Ia berangkat ke AS untuk melanjutkan studi pascasarjana strata dua dan doktor di bidang elektronika.

Setelah menyerap banyak ilmu dan pengalaman bekerja di bidang semikonduktor di AS, ia kembali ke Korsel dan bekerja di Samsung. Selanjutnya, ia menjadi salah satu dari sejumlah orang penting di balik kesuksesan Samsung dalam mengembangkan sejumlah teknologi telepon pintar.

Di ruang kerja yang sedikit berantakan, ia menunjukkan beberapa peralatan teknologi tinggi hasil rancangannya. Ini belum diluncurkan, kata mantan Senior Vice President Samsung (1995-2006) yang memegang 17 hak paten di AS dan 32 hak paten internasional tersebut.

Jalan serupa ditempuh Lee Soo-man, mantan penyanyi yang memutuskan merantau ke AS untuk mempelajari industri hiburan, kurun 1980-an. Pada 1990-an, ia kembali ke Korsel dan jadi otak di balik ekspansi K-Pop yang memicu histeria jutaan anak muda dari Asia hingga Amerika. Tiba-tiba saja industri musik Korsel yang hingga awal 1990-an belum terdengar gaungnya, awal 2000-an, memicu kehebohan di banyak negara.

Dari sini, banyak pengamat menyebut K-Pop sebagai penanda lompatan kedua Korsel. Negeri itu tidak lagi sekadar mengekspor produk manufaktur, tetapi juga produk budaya pop, citra, dan imajinasi Korea ke dunia global.

Dan, pengaruh Korsel benar-benar terasa kehadirannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita makin terbiasa memakai ponsel pintar Samsung, mesin cuci dan AC LG, mobil Hyundai, belanja di Lotte Mart, merawat wajah dengan BB cream korea, hingga mengunyah kimchi dan roti korea. 

By kompas

2:05 AM | 1 comments | Read More

Sains Lebih Menjanjikan daripada Agama.

Written By widnyana made on Wednesday, October 1, 2014 | 4:15 AM

Fisikawan Stephen Hawking menyatakan bahwa dirinya ateis. Ia mengatakan, sains menawarkan penjelasan yang lebih masuk akal tentang asal-usul alam semesta daripada agama.

Hawking menyatakan pandangannya tersebut dalam wawancara dengan koran Spanyol,El Mundo, 21 September 2014 lalu.

"Sebelum kita mengenal sains, natural untuk percaya bahwa Tuhan mengenal alam semesta. Tapi sekarang sains menawarkan penjelasan yang lebih meyakinkan," kata Hawking.

Dalam wawancara itu, El Mundobertanya maksud pernyataan Hawking dalam bukunya yang fenomenal, A Brief History of Time.

Dalam buku itu, Hawking menyatakan, dengan mempersatukan sains dan agama, manusia akan memahami "pikiran Tuhan". El Mundo menanyakan apa yang dimaksud dengan pikiran Tuhan.

Hawking menjawab, "Kita akan tahu pikiran Tuhan, artinya kita akan tahu apa yang Tuhan tahu. Itu kalau Tuhan ada, tapi Tuhan tidak ada. Saya ateis."

Hawking beberapa kali memberikan pernyataan yang menunjukkan bahwa dia ateis. Dia pernah mengatakan, alam semesta diatur oleh hukum pengetahuan. Tuhan mempunyai hukum, tetapi tidak akan mengintervensi kalau ada yang melanggar.

Tahun 2011, Hawking menyatakan pada The Guardian bahwa ia tak percaya surga. Baginya, surga adalah untuk orang-orang yang takut kegelapan.

Dikutip situs IBTimes, Minggu (28/9/2014), Hawking menyatakan, "Menurut saya, tidak ada aspek realitas melampaui realitas yang bisa dipahami manusia."

By kompas
4:15 AM | 1 comments | Read More

Jaga Emosi di Dunia Sosial

Written By widnyana made on Saturday, August 30, 2014 | 5:42 PM

Betapa mudah orang "terpeleset" di media sosial lalu berujung petaka. Gara-gara kicauan menghina Kota Yogyakarta, Florence Sihombing menjadi sasaran amuk para pengguna Twitter, Facebook, ataupun Path. Kisah Florence ini semestinya menjadi pelajaran agar berhati-hati menggunakan media sosial. Perkara sepele menggelinding menjadi besar dan memancing kemarahan sesama pengguna media sosial.

Florence adalah mahasiswi program pascasarjana di Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta. Kamis lalu, ketika sedang antre membeli bahan bakar minyak di kota itu, dia tidak sabar lalu memotong antrean. Tapi petugas pompa bensin menolak. Florence, yang tidak terima, kemudian menumpahkan kekesalan di akun Path-nya. Kata-katanya kasar. Ia memaki Yogyakarta dengan menyebutnya daerah miskin dan tak berbudaya.

Reaksi keras tentu saja muncul. Puluhan orang juga menggelar unjuk rasa meminta supaya Florence diusir dari kota tempatnya belajar itu. Bahkan lembaga swadaya masyarakat Jatisura (Jangan Khianati Suara Rakyat) melaporkan mahasiswi ini ke Markas Polda Daerah Istimewa Yogyakarta. Florence dianggap mencemarkan nama baik kelompok masyarakat. 

Florence memang keterlaluan, tapi reaksi pengguna media sosial juga berlebihan. Polisi dan jaksa pun tidak perlu repot memproses pengaduan kasus ini. Para penegak hukum mesti menempatkan kicauan Florence dalam konteksnya. Kicauan itu sepertinya hanya luapan kekesalan terhadap buruknya suasana kota atau panjangnya antrean pembelian bahan bakar di Yogyakarta.

Pelajaran bagi Florence, berhati-hatilah di media sosial. Kicauanmu harimaumu! Sekali muncul ucapan kontroversial, efeknya menjalar ke mana-mana. Media sosial membawa efek viral yang luar biasa. Florence seharusnya mafhum "tata krama" media sosial. Menulis di media ini berbeda dengan berbicara di acara arisan atau warung kopi.

Sudah banyak yang tergelincir karena kasus seperti ini. Benny Handoko, pemilik akun @benhan, contohnya, divonis 6 bulan penjara dengan 1 tahun percobaan gara-gara menyebut M. Misbakhun-bekas politikus Partai Keadilan Sejahtera-sebagai perampok Bank Century.

Florence belum sampai bernasib seperti Benny. Namun, bila laporan atas ulahnya diproses kepolisian, dia bisa saja dijerat dengan pasal-pasal karet yang ada dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik Nomor 11 Tahun 2008. Florence bakal dikenai Pasal 28 ayat 2, yang gampang sekali disalahgunakan. Tak ada kriteria jelas soal ini. Ayat ini mengatur soal setiap orang yang menyebarkan informasi untuk menimbulkan rasa kebencian individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). 

Penegak hukum seharusnya tak perlulah memproses kasus ini. Masyarakat pengguna media sosial, khususnya warga Yogyakarta, juga mesti legawa lantaran Florence sudah meminta maaf dan menggelar jumpa pers. Ini mesti menjadi pelajaran bagi Florence atau pengguna media sosial lain. Sopan santun tetap diperlukan dalam bertingkah laku di media sosial.

5:42 PM | 1 comments | Read More

Krupuk Kulit Babi dan Samsam Khas Bali

Written By widnyana made on Sunday, August 10, 2014 | 12:08 AM


Om swastyastu
Bagi krama bali yang beragama hindu, tentunya menyantap hidangan berbahan dasar babi bukanlah hal super. 
Karena hampir di sebagian besar event, warga hindu bali memasak makanan berbahan dasar daging babi. 
Nah baru2 ini saya mengirimkan krupuk kulit babi dan samsam (kulit babi yg masih ada sdikit dagingnya) ke kakak saya di kalimantan. 

Mendapatkan krupuk kulit babi di luar Bali bukanlah perkara mudah. Oleh karena itu saya berniat membantu semeton di luar bali yang ingin medapatkan krupuk kulit babi ini. 
Tapi agar lebih praktis, saya hanya melayani order minimal 1 kg dengan harga Rp. 280.000, bandingkan dengan 'Titiles' (toko terkenal di bali penyedia oleh2 daging) disana 1/4 kg saja dijual 110.000. Sekilonya jadinya 440.000, jauh lebih murah harga yang saya tawarkan. Kenapa lebih murah??
Karena saya mendapatkan produk langsung di produsen. 

Berninat?
Sms saja ke 081934381457 
Ditunggu..! 

12:08 AM | 2 comments | Read More

Makna Dibalik Film "Top Secret The Bilionaire"

Written By widnyana made on Monday, June 24, 2013 | 6:04 AM

Top Secret The Billionair adalah sebuah film bertema enterpreneurship. Beberapa dari kalian mungkin sudah sempat menonton film ini. Film ini diangkat dari kisah nyata seorang enterpreneurship muda, Top Ittipat yang diperankan oleh Peach Pachara Chirathivat.
Berawal dari keisengan saya bongkar-bongkar laptop temen akhirnya ketemu film dengan judul 'menggoda'. awalnya saya acuh tak acuh, apalagi melihat ini film Thailand, jauh dari kegemaran saya yang lebih memilih menonton film Box Officenya Jason Statham. namun setelah beberapa menit nonton dan mendengar sedikit sinopsisnya, saya jadi teratarik (kebetulan saya sangat tertarik dengan dunia enterpreneurship). 

Kembali ke cerita film, di film ini dikisahkan bahwa si Top ini sangan suka bermain game online hingga menghasilkan banyak uang dari hasil berjualan senjata di game tersebut. bahkan dari hasil tersebut, ia mampu membeli sebuah mobil. namun disisi lain, keluarganya memiliki hutang yang sangat besar. -kalau saya ceritakan detail, lamaaaaaaaaa banget ni-
Yudah intinya aja deh:
Banyak banget pelajaran yang saya dapatkan dari sini. saya juga sempat mencoba beberapa jenis usaha kecil-kecilan, namun belum mendapatkan hasil yang menggembirakan, bahkan ada yang gulung tikar. ada beberapa point penting yang saya dapatkan kenapa si Top ini bisa berhasil. 
yang pertama, dia memang memiliki jiwa bisnis, terbukti saat main game pun dia mencoba berjualan senjata dalam game tersebut. Yang kedua, dia mempunyai orang kepercayaan yang selalu menemaninya dari awal perjalanan hingga akhir (pamannya). Yang ketiga, dia mempunyai dorongan yang kuat untuk melunasi hutang orang tuanya (urusan finansial), kemudian yang terakhir si Top ini memiliki jiwa pantang menyerah dan pemberontak (terbukti saat ia menolak diajak pindah ke Cina oleh ayahnya).
Jadi kesimpulannya tekad yang kuat belum  cukup untuk meraih kesuksesan, perlu banyak aspek yang mendukung kesusksesan tersebut. dan sekali lagi, modal bukanlah perosalan utama. (widnyana)

6:04 AM | 1 comments | Read More

Hindu akan Punah karena Adatnya

Written By widnyana made on Tuesday, May 15, 2012 | 6:25 AM

Om Swastyastu.
Ini tulisan pertama saya di blog yang saya buat asli dari pemikiran. bukan dari co-pas sumber lain. Beberapa hari yang lalu, saya sempat pulang kampung dan tinggal di rumah selama hari Sabtu dan Minggu. Kebetulan sekali pada hari Sabtu (12 Mei 2012) di Banjar saya ada kegiatan pelebon. Yang meninggal adalah pemangku dari pura di desa adat kami. Sehingga sebuah kewajiban bagi warga masyarakat untuk membantu dalam hal tenaga dan materi dalam rangka pelebonn tersebut. 
Sebuah kesempatan yang baik bagi saya untuk terjun kembali ke masyarakat dan berbaur di dalamnya, karena sya yang tinggal di Denpasar untuk kuliah hampir jarang mendapat kesempatan untuk ngayah di masayarakat. Ini bukanlah pertama kali saya terjun di masayarakat, mungkin bisa dibilang yang kesekian kalinya selaku pengganti dari orang tua (bapak), sehingga kegiatan yang dilakukan sudah saya pahami. Dimulai dari kegiatan yang sederhan seperti menguliti kelapa, memarut kelapa hingga kegiatan yang memerlukan keterampilan khusus lainnya, seperti membuat klakat sudamala dan membuat sengkui (tempat ayam). Di sela-sela kegiatan itu, kita tidak bekerja seperti seorang karyawan pabrik, yang saling diam dan fokus pada kerja, melainkan kita berbaur satu sama lain dan saling berinteraksi. Disinilah perbedaan mendasar dari cara kerja orang Bali, tangan bekerja mulutpun berbicara, pekerjaan lama selesai memang, tapi pikiran sedikit rileks karena diselingi obrolan ringan antara pengayah. 
 Disela-sela obrolan inilah saya mendengar pembicaraan yang cukup seru dan menarik antara teman SD saya dulu dengan salah seorang warga pengayah lainnya. Teman SD saya itu seumuran dengan saya, seperti ini kira-kira inti pembicaraan mereka 
"sangat susah membagi waktu, saya harus kerja, harus ngayah, pengen sebenarnya kuliah, tapi banyak hal yang menghalangi".
Perlu diketahui bahwa teman SD saya ini adalah anak yatim (bapaknya meninggal) sehingga semua tanggung jawab di desa adat (ngayah, tedun, gotong royong dan lain-lain) dilaksanakan oleh dia. Betapa memprihatinkannya melihat anak muda umur 20-an yang seharusnya ada di bangku kuliah malahan berkutat dengan urusan adat yang sangat pragmatis.
Sempat saya mendiskusikan masalah ini dengan orang tua saya sepulang dari ngayah, dan bapak saya berkata "adat kita terlalu keja," 
Saya berpikir sejenak, dan setuju dengan pendapat bapak saya. Bukankah sebaiknya dia diberikan perkecualiaan, bukankah dia sebaiknya diberikan keringanan. Misalnya diberikan keringanan dengan cara kewajibannya dibanjar bisa digantikan oleh ibunya (perlu diketahui, adat di daerah saya sangat memperhatikan gender saat ngayah. Jadi saat yang ngayah adalah pihak laki-laki, maka yang datang adalah laki-laki, dan bila ada perempuan yang mewakili, maka akan ada cibiran dari pengayah laki lainnya). Ini seperti sebuah tradisi yang membelenggu modernisasi. Adat memang salah satu alat untuk mengajegkan Bali. akan tetapi, apakah generasi muda yang kolot sudah cukup untuk menjaga sebuah "AJEG BALI" ?
(widnyana)
6:25 AM | 2 comments | Read More

Amerika Mau Nyari Minyak di Angkasa Luar!

Written By widnyana made on Saturday, May 5, 2012 | 6:55 AM

Sejumlah eksekutif perusahaan teknologi dan sutradara film berencana melakukan survei dan menambang mineral langka dari asteroid yang mengorbit di dekat Bumi.

Rencana bernilai miliaran dollar AS itu termasuk penggunaan robot di ruang angkasa untuk mencari komponen kimia minyak dan mineral, termasuk emas dan platinum, dari bebatuan tersebut.
 
Para penggagasnya antara lain sutradara terkenal, James Cameron, dan pemimpin eksekutif raksasa internet Google, Larry Page dan Eric Schmidt.

Mereka bahkan berencana menciptakan depot bahan bakar di ruang angkasa pada tahun 2020.

Namun, sejumlah ilmuwan menyatakan keraguannya dengan menyebut rencana itu terlalu berani, sulit, dan terlalu mahal.

Para ilmuwan menyatakan, biaya untuk mewujudkan rencana itu sulit ditekan walaupun harga platinum dan emas sekitar 35 poundsterling (Rp 490.000).

Sebuah misi Badan Ruang Angkasa Amerika, NASA, yang rencananya akan membawa pulang hanya 60 gram materi dari asteroid ke Bumi memerlukan biaya sekitar 1 miliar dollar AS.

Sasaran ribuan asteroid

Langkah awal yang akan dilakukan dalam waktu 18 sampai 24 bulan ke depan mencakup peluncuran teleskop yang akan mencari sasaran asteroid yang kaya akan sumber mineral. Tujuannya adalah membuka eksplorasi ruang angkasa untuk industri swasta.

Dalam waktu lima sampai sepuluh tahun kemudian, perusahaan pengelola berharap mereka bisa bergerak dari bisnis penyewaan landasan pengamatan di orbit ke penambangan ribuan asteroid yang mengorbit di dekat Bumi dan menyaring bahan mentah yang dikandung.

Perusahaan yang disebut Planetary Resources ini juga didukung oleh penggagas pariwisata ruang angkasa, Eric Anderson; mantan calon presiden Amerika, Ross Perot; dan astronot NASA yang berpengalaman, Tom Jones.

"Kami tidak memperkirakan perusahaan ini dapat segera mengeruk keuntungan. Upaya ini akan makan waktu lama," kata Eric Anderson kepada kantor berita Reuters.

Profesor Jay Melosh dari Universitas Purdue mengatakan, biaya rencana ini sangat tinggi dan menyebut eksplorasi ruang angkasa sebagai "olahraga yang hanya diikuti oleh negara-negara kaya dan mereka yang ingin menunjukkan keunggulan teknologi."

Namun, Eric Anderson—yang mendirikan perusahaan pariwisata ruang angkasa, Space Adventures— mengatakan dia sudah terbiasa menghadapi orang yang skeptis. "Kami bergerak dalam industri ini selama puluhan tahun. Namun, ini bukan yayasan sosial, dan kami akan menghasilkan uang dari awal," katanya. 

Sumber : www.kompas.com
6:55 AM | 0 comments | Read More